November 2011 menjadi bulan bersejarah buat saya. Karena tepat pada sabtu (5/11) 2011 saya melakukan perjalanan panjang dan melelahkan bersama dengan abang yang senantiasa mengajak saya "ZEN" untuk menghadiri undangan kegiatan. Dalam sehari kami melakukan 3 kali penerbangan dengan pesawat yang berbeda dan mengunjungi 4 bandara di kota-kota yang berbeda pula. Perjalanan yang dilalui adalah bandara Vietnam (Ho Chi Minh City Airport Terminal Tan Son Nhat International Airport) ke Singapore (Singapore Changi Airport), lalu dari Singapore menuju Jakarta (Jakarta International Airport Soekarno-Hatta)dan dari Jakarta menuju Pekanbaru (Sutan Syarif Qasyim II Pekanbaru International Airport).
Berikut secuil kisah dari jejak kaki seorang ayah Zizi.
Kepedulian harus dimulai dari diri sendiri tanpa banyak basa-basi. Walau tak bisa turun langsung namun dengan mendokumentasikan suatu kegiatan nyata sudah menjadi sebuah bagian dalam wujud kepedulian. Hal inilah yang mengilhami saya suatu ketika sebuah organisasi "voulantary" yang fokus terhadap kondisi sungai-sungai yang ada di Riau -River Defender- mencoba membuat gambaran terkini tentang kondisi sungai sail dari mulai hulu-sampai hilir pada awal tahun 2011 yang lalu.
Bersikap untuk tidak merasa bahwa kita tidak harus peduli dengan sungai karena tidak ada korelasi antar masyarakat yang berdomisili jauh dari sungai lantas tidak peduli dengan sungai adalah salah besar. Karena setiap kehidupan membutuhkan sunga
i, sebab sungai untuk kehidupan. Dalam ekpedisi ini River Defender banyak menemukan informasi yang valid tentang kondisi sungai sail saat ini. Sungai sail terletak di 3 kabupaten/kota di Propinsi Riau. Untuk hulu sungai berada di Kab Pelalawan yang berbatasan langsung dengan kota Pekanbaru, dan sebagian hulu juga masuk ke dalam wilayah kab kampar tepatnya di Pasir Putih, sedangkan bagian tengah dan hilir membentang luas kota Pekanbaru. Sungai sail akan bermuara ke Sungai Siak.
Lelah.... tentu tidak. Kita selalu siap untuk mendukung gerakan-gerakan perubahan khususnya untuk anak muda yang selalu senantiasa mencoba melakukan perubahan walau hasilnya tidak begitu besar. Tidak banyak yang bisa dilakukan, namun dengan hal ini kita sudah dapat menjadi bagian dalam gerakan perubahan. Defender Our River Now!
Juni 2010, saya berkesempatan menapakkan jejak kaki saya ke negara jiran yaitu Malaysia. Bersama dengan teman dan sekaligus abang buat saya "Zainury Hasyim" kami berangkat ke Kuala Selangor Malaysia.
Adapun tujuannya adalah mengikuti undangan kegiatan dalam rangka Training of Trainer (TOT) best management practice on Peatlands yang artinya pelatihan pengelolaan terbaik di kawasan gambut. Perwakilan Yayasan Mitra Insani membuat saya bisa terbang ke Malaysia. Sesaat setelah acara selesai, kami bersama dengan teman-teman dari berbagai negara delegasi ASEAN yang turut serta dalam rombongan melakukan kunjungan ke Twin Tower (Menara Kembar) nya Malaysia. Diantaranya ada perwakilan dari Cambodia, Lao PDR, dan Myanmar.
Setelah Thailand, sudah terekam jejak kaki saya di Malaysia. Selanjutnya kemana kaki akan melangkah maka jejak kaki saya akan selalu ada mengikuti saya.
Wajah-wajah asli pribumi Indonesia biasanya dapat oangsung dikenal dengan wajahnya, sikapnya dan kelakukannya. Slaah satu selalu ramah dan murah menyapa, suka menolong tanpa pamrih. Dan tidak kalah penting salaing toleransi sesama umat baragama.
Ini adalah sebuah kisah seorang wajah anakpribumi indonesia yang mencoba melakukan perubahan dan sesuatu walau tahu hasil yang didapatkan belumlah semaksimal ini. Tanpa harus ada yang melakukan, tidaklah akan terjadi sebuah perubahan, namun walau hanya sedikit bisa menjadi arus untuk perubahan yang lebih besar.
Berperilaku layaknya seorang pemuda indonesia dapat menjadikan kita sebagai representatsi dari pemuda/i nusantara. Nah itulah yang akan kita bawa selalu kemanpun saja kita melangkahkan kaki ini.
Hisam Setiawan


